DINGIN

Terlahir aku di kaki langit.
berselimut kabut, bermandikan embun.
Menggigil aku pada kedinginan.
Suhu hampir 16 derjat setiap saat.

DINGIN

Di pucuk gunung aku terhempas.
Kaki kaki mungil berlarian lepas.
Hangat ku kejar pada Natas labar.
Tangisan dan tawa tercampur satu.

DINGIN
Di rumah tua aku terperanjab.
Beralaskan papan, beratapkan ilalang.
Berlindung aku pada tikar tua,
Berslimut hangat pada Songke botek.

DINGIN
Di bawah kilauan bintang ak menegadah
Kabut malam tak jadi datang.
Ku coba melangkah ke luar rumah.
langit malam sungguh indah.

DINGIN
Di bawah mentari kurasakan hangat.
Ku biarkan badan tersinar cahaya.
Tangan terentang di atas kepala.
bayangan diri memanjang di natas.

DINGIN

Di gereja tua aku bersujud kusuk,
Memanggil Mori agu Ngaran
pencipta “Tanan wa, Awang’ Eta”
Pinta kuucap, doaku lantun.
damaiMu Adalah damaiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s