Mose Cerepa mata

Eme beti nai agu ata, cake suan boa. Can latang hau agu waum hitu!

Begitu “lopo” itu mengumpat ketika melihat kehidupan yang dipenuhi kebencian.

Ketika anda memutuskan utk membenci sesorng. Sadar atau tidak, anda sedang mengali dua liang kubur. Satu untuk musuh anda & dan satunya untuk anda sendiri.

Entah mengapa? Kisah mereka melayang layang menyentuh kedamaian pikiran. Sampai akhirnya terdampar pada memori beberapa dekade lalu, sebuah ungkapan leluhurku yang diucapkan kembali oleh petuah adat sesat salah satu warga kampung meninggalkan mbaru bate kaeng, natas bate labar untuk selamanya.

Tuturnya: tenang mose lino, toe ma ata cengatan nganceng poe eme benta le Mori Dewa, capan kaut momang dite.
“mose lino cenggo”

Tentang hidup di dunia ini, kalau Tuhan memanggil kita, maka tak ada seorangpun yang bisa mengatakan tidak atau menolaknya. “Dunia ini hanyalah tempat persinggahan”

Teringat aku pada kisah kehidupan 3 bersaudara yang terlahir dari tetesan cinta dan darah yang sama. Semasa hidup kualihat mereka terbentur pada prinsip yang berbeda dan sangat angkuh satu sama lainya sampai membentuk ego yang kokoh, memisahkan mereka kepada kehidupan yang penuh dengan kedengkian.

Keegoisan yang kokoh mengubah darah dan cinta mereka yang terlahir satu, terpencar menjadi kisah tragis sampai ke liang lahat. Tersisa Dendam kusumat berjalan bergentayangan tak menemukan kedamaian. Mereka saling mengumpat!!

Kembali kepada tutur para leluhurku
” mose lino cenggo”

Andai untain kata kusam nan tua itu mereka benar benar telan dan ” IDEP”! ya idep/renung untuk dikumandangkan di sepanjang lorong kehidupan yang cuma sebentar saja.

Tetuah adat itu mengucapkanya kembali dan berulang ulang. kali ini dia menggambarkan kehidupan yang cuma sekejap mata. Sampai kau hanya memiliki seperskian detik untuk berbuat baik kepada sasamamu.
Kata maf untuk terakhir kali setidaknya ketika dia hendak menghembuskan nafas kehidupan terakhir.

Sebab ketika dia sudah kaku menjadi mayat. Kau tau?? Apapun yang kamu katakan kepada dia itu tak ubahnya kau mengatakan kepada batu. Betapapun kau menyesali tak ada gunanya.

Sabdanya sang leluhur tertutur terus sang petuah’

Katanya:

Cengkalin kanag mose. Cekoey koe. Itu tara nggon hiang dia cama hae waum. Neka kanang ata dakun taung! Toen taung data. Bo derem jejem ntaung “doing koe”lete lako ledong ite tedeng len le ase kae. Apa koe ata idep!!

Saya hanya duduk, diam mendengar, melongo menonton mulut kusutnya nan bijak mengucapakan kata2 bijak ttg hidup. Meski jipratan “campuran cepa agu mbako rani yg teronggok tersembuyi di balik bibirnya ke mana mana.

Akahir sabdanya dia memberi pesan kehidupan.

Eme beti nai agu hae wau, cama ata cake suad liang boa.
Can latang hau agu latang waum hitu.

Ameng!!!!

#life is once and so short.
So live your life with loving each others.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s