Ketika masa lalu tak bisa dilupakan?

Baru baru ini Anthony Buono seorang penulis di website Catholic News Agency (CNA) mengulas bagaiman ketika diri kita tidak bisa melupakan masa lalu. apakah yang harus kita lakukan? Apakah kita harus terus membiarkan persaan itu diam membusuk dalam diri kita? Tentu saja tidak.

Dia mengatakan bahwa salah satu kunci penting dalam melewati perasan terluka adalah dengan berdamai dengannya atau melupkanya. Inilah cara yang selalu dilakukan Tuhan Yesus untuk berdamai dengan para musuh yang menentangnya.

Lalu kemudian dia mengungkapakan bahwa cara seperti ini bukanlah satu satunya. Memafkan dan melupakan bukanlah cara yang terbaik. Untuk memafkan ya, tapi tidak untuk bisa melupaknya begitu saja. Kenapa? Ya Tentu saja tidak mudah bagi pribadi kita untuk melupakan begitu saja semua kejadian yang telah berlalu, apalagi kalau persitiwa itu menyakitkan. Diri manusia bukanlah seperti perangkat komputer yang kalau dihapus datanya sekejap hilang dan terus hilang. Didalam diri kita ada rasa dan menjadi sangat sulit diperbaiki ketika rasa itu pernah disakiti.

Tetapi bagaiman aku bisa melupaka sesorang yang telah dengan tega meyakiti dan mencapakan aku? Inilah pertanyaan yang tentu saja selau muncul dalam diri kita, ketika kita merasa sangat disakiti. Ini tentu sangat wajar. Tetapi apakah kita pernah berpikir apa yang mungkin membuat kita bertanya seperti itu? Ini karena kita punya hasrat atau menghendaki untuk tidak mengulangi kejadian yang sama. Diri kita tidak ingin untuk disakiti lagi. Ini juga karena kita merasa bahwa ini seharusnya tidak terjadi kepada diri kita. Dan masih banyak lainya. Inilah yang selalu kita dengungkan kalau persan tersakiti sudah lama tersimpan hingga seperti terkorosi dalam pikiran. Saya tidak layak untuk diperlakuakn seperti ini. Begitulah kita selalu mengatakan kepada diri kita sendiri. Lalu apakah mungkin ini karena kita terlalu mengikuti apa yang telah dicontohkan Tuhan Yesus, melihat begitu tidak adilnya segala masalah yang mucul.

Semua alasan di atas tentu bisa diterima dengan akal sehat. Tetapi secara realistis, dalam usah menemukan beberapa alasan di atas kemungkinan besar berakhir dengan ketidakpuasan. Niat untuk menemukan penyebab dan mencegah untuk tidak mengulangi kejadian yang sama di hari yang akan datang adalah suatu yang sangat berharga kita lakukan. Tetapi tidakakh ini akan membutuhkan waktu yang lama ketika bertanya” kenapa anda melakukanya? “ dan kenapa juga kita sangat susah menemukan jawaban untuk pertanyan yang kita harapakan dapat meberikan kesejukan hati. Dan sering kali kita mengatakan; aku tidak tau kenapa?

Yakinlah bahwa pertama tama kita mencoba melakukanya mungkin saja tidak berhasil. Karena tak seorangpun bisa menjanjikan bahwa kita tidak akan disakiti lagi. kita bertanya; apakah saya pantas untuk tidak disakiti lagi? apakah kita merasa bahwa semua yang mengikuti Yesus harus memanggul salib. Ataukah kita berhak untuk memilih salib sendiri?

Inilah yang membuat orang harus diam sejenak untuk sekedar mengulangi dan merasakan kembali ketika dirinya disakiti. Sebuah kenyatan tentang umat manusia yang perlu diperhatikan. Sungguh disayangkan, orang merasa lebih baik ketika mereka mengenang kembali semua yang telah menyakitkan mereka. Bukankah ini hanyalah membuat diri kita kemabli merasakan dan hanya mebiarkan diri kita tersiksa oleh rasa yang tidak tereselesaikan. ketika kita membiarkan perasan dendam terus tersembunyi dalam diri kita, ini tidak ada bedanya kita membangun penjara untuk diri kita sendiri. Seperti mendengar lagu yang sama secara berulang ulang. Membiarkan diri anda disakiti disetiap waktu.

Siapakah yang beruntung dalam skenario sperti ini? Orang yang telah menyakitimu spertinya sudah tidak ingat lagi dan mungkin dia tidak akan pernah menyadari bahwa dia sudah melakukan kesalahan. Walaupun ini tidak disengaja tetapi akan secara berkesinambungan terus menyakiti anda. begitulah anda berada dalam ruang siksaan yang dibangun oleh anda sendiri. Merasakan kesalahan yang dibuat seseorang dan membiarkan penderitaan yang dilakukanya menjadi tanggung jawab anda sendiri. Anda benar benar sperti sebuah ruangan yang memenjaraka diri anda sendiri ketika semua kenangan yang menyakitkan terus tinggal dalam ingatan anda.

Lalu apakah artinya kita melupakan?

Ini tidak sama dengan melupakan persaan tentang bagaiamana ketika kita telah mengalami perlakuan tidak adil. Ini berarti kemapuan untuk mencegah pikiran kita dari kekuatan negatif yang pada akhirnya menutun kita pada penyelesaian yang tidak menguntungkan, baik berupa pikiran, tindakan atau perasan. Inilah sebuah bentuk tindakan dari sebuah harapan atau hasrat. Perlakuan seperti ini yang tidak perlu ada dalam ingatan negativ kita. Bagaimana mungkin kita melakukan sebuah tindakan dari apa yang kita inginkan ketika persaan tersakiti masih ada dalam ingatan kita?

disinilah kita membutuhkan yang disebut dengan berkat Tuhan. Tuhan akan menyembuhkan kita dengan cara yang sangat mengensankan kalau kita mebiarkan Dia untuk melakukan itu. Berkat Tuhan akan mampu membawa seseornag untuk bangkit dari keterpurukan dengan cara yang tidak bisa kita mengerti.

Dengan demikian cari dan berdoalah kepadaTuhan dengan kerendahan hatimu. Lakukanlah apa yang menjadi harapan-Nya. Jangan pernah bertingkah dengan tidak senada dengan apa yang kamu katakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s